Pilihan Bahagia

6 Juli 2020 • Edwin Lunando

Maafkan kalau judulnya terlihat galau, tapi seharusnya tidak kok. Semoga. Dari dulu sudah banyak membaca tulisan terkait cara menikmati hidup dan bertanya ke diri sendiri maunya ngapain aja di dunia ini, tapi belum merasa cukup yakin. Yah, tulisan ini supaya untuk memantapkan cara pandang hidup dan dunia aku lah. Selama masih hidup. Mulai dari premisnya terlebih dahulu, yang aku pegang hingga sekarang adalah.

Aku gak punya kewajiban untuk melakukan apapun. Walaupun banyak prinsip dan ajaran kehidupan yang aku pegang, pada akhirnya aku melihat itu sebagai panduan, bukan keharusan. Selama aku bisa terima dengan konsekuensinya dan aku rasa masuk akal, akan aku lakukan.

Setiap momen, aku berusaha mencari cara untuk menikmatinya. Aku gak pakai kata bahagia karena yang aku tuju adalah contentment(yang belum aku temukan padanannya) dan enjoyment. Bahagia adalah faktor yang penting, tapi banyak faktor lain juga untuk mencapai contentment. Begitu kedua premisnya. Selanjutnya nilai-nilainya.

Mulai dari visi yang luas terlebih dahulu. Walaupun dunia ini banyak masalah, konflik, dan musibah, ada sebagian kemajuan seperti jumlah orang yang miskin terus berkurang. Walaupun, kondisi COVID-19 ini merusak kemajuan yang sudah dicicil sejak tahunan, aku setuju dengan perubahan ini karena dengan semakin banyak orang mengalami kemajuan di sisi ekonomi mereka, mereka dapat kemampuan untuk lebih banyak pilihan yang butuh modal ekonomi. Terutama dalam pengadaan energi(listrik, bensin, atau instrumen penyedia energi lainnya) untuk menghidupi rumah dan aktivitas ekonomi. Aku ingin lebih banyak orang yang bisa dapat kesempatan untuk menjalani hidup mereka dengan lebih layak terlebih dahulu. Aku paham walaupun seseorang sudah punya kemampuan ekonomi yang cukup, dia belum tentu bisa menikmati hidupnya, tapi setiap dari kita butuh modal ekonomi yang cukup lah untuk meraih itu. Tujuan akhirnya tetap supaya semua orang bisa menikmati hidup, lah.

Untuk skala lokal, yah aku berusaha menjadi bagian yang berkontribusi pada masyarakat dan membantu sebisanya untuk yang lain bisa menikmati hidupnya. Terutama banget yang di sekitaran ku. Yang aku rasa aku bisa berdampak signifikan. Aku lebih milih lingkupan yang kecil tapi intens daripada yang luas. Minimal banget, gak menambah beban kehidupan orang lain lah.

Kedua, yang terkait diri sendiri. Aku sangat menghargai pengembangan atau kemajuan atau aku sering sebutnya progression. Kemajuan ini maksudnya perubahan segala hal menjadi kondisi yang lebih baik. Setiap kali aku merasa ada perkembangan yang berarti di segala aspek kehidupanku(atau bahasa gimnya naik level) aku akan merasakan bahagia. Tidak harus perkembangan yang terkait kerjaan, hal-hal lain terkait kemampuan kehidupan seperti masak makanan jadi lebih enak atau dapat teman baru. Tidak harus yang baru, karena kemajuan di hal-hal yang sudah ada lebih bisa dinikmati. Paling masalahnya itu, kadang proses perubahannya itu yang sulit dinikmati. Kemajuan ini juga aku rasa yang membuat gim itu jadi seru untuk dimainkan. Karakternya ada kemajuan setelah aktivitas dilakukan. Konsep yang mirip juga ada di dunia sinema. Tampaknya, Setelah baca-baca terkait ini, tampaknya istilah populernya itu growth mindset.

Ketiga, terkait sosial, ini mungkin terkait orang-orang yang sering aku interaksi. Aku baru mulai paham terkait cara kerja hubungan sosial mungkin setelah kuliah dan baca artikel ini. Sebenarnya, dari dulu sudah paham, kalau menjalankan aktivitas bersama dengan orang lain yang ku kenal(apalagi dekat) itu sangat meningkatkan keasyikan dari hidup. Namun, ya, aku baru sadar kalau gak semua relasi kita sekarang itu bisa dijadikan teman untuk bareng menikmati hidup. Gak semua relasi itu sehat atau bisa dinikmati. Aku jadi sadar juga, kalau di sisi aku sendiri pun perlu usaha untuk relasi yang sehat dan bisa dinikmati, itu bagian dari pengembangan diri. Tapi ya, walaupun sudah berusaha, pada akhirnya tetap saja gak semua relasi itu bakal berbalas. Oleh karena itu, usaha dan waktuku bisa diprioritaskan untuk relasi yang menetap. Oleh karena itu, relasi ini menjadi salah satu faktor utamaku dalam menentukan aku menikmati hidup atau tidak.

Masih ada yang lain, tapi ketiga nilai ini lah yang menjadi acuan ku dalam menentukan arah dan keputusan kehidupan. Masih ada prinsip-prinsip lain yang lebih spesifik, tapi itu untuk cerita lain waktu lah ya. Aku merasa, semakin lama hidup, prinsip-prinsip tersebut tidak berubah, namun lebih konkret dan teroptimasi untuk menikmati hidup. Dengan begitu, aku bisa tidak perlu ragu dalam melepas sesuatu yang tidak sparks joy.