Pelajaran Tambahan

26 Juli 2016 • Edwin Lunando

Saat menjalani kehidupan menjadi seorang pekerja, ada begitu banyak pengetahuan baru yang aku dapatkan. Dari semua yang aku dalami, aku berpikir, alangkah baiknya kalau semua pengetahuan ini sudah diberikan sejak dini. Ketenagakerjaan, etika di dunia kerja, pajak, hukum dagang, dan sampai yang personal seperti manajemen finansial, semua pengetahuan ini harusnya minimal semua orang pernah tahu atau baca terkait hal-hal ini sebelum terjun ke dunia kerja.

Banyak Penting Tahu, Sedikit Info

Masalahnya, orang-orang punya ekspektasi kamu tahu akan semua pengetahuan ini. Tidak pernah dikasih tahu orang tua, diajari dosen di kampus, dan gak pernah bahas terkait ini sama teman-teman. Berikut salah satu kasusnya. Aku bukanlah orang yang ragu-ragu dalam bertindak. Kalau sudah aku pikirkan oke, ya langsung dijalankan. Sudah beberapa kali aku ditegur atau bahkan dimarahi terkait etika kerja ini. Dulu pas aku masih kuliah, ada mata kuliah etika di dunia kerja, tapi gak dijelaskan sampai sedetil exit interview harus di kantor atau cara nulis surat resign yang formal. Aku sebenernya seneng dengan dikasih tahu kalau aku ada salah atau gak tahu, masalahnya mereka anggep itu masalah. Mereka punya ekspektasi orang-orang tahu akan hal ini. Tidak apa-apa. Itu risiko yang aku ambil dengan memilih jadi orang yang ngambil keputusan dengan cepat.

Belum lagi pengetahuan terkait finansial, investasi, pajak, dan hukum. Kalau aku punya sisa gaji tiap bulan enakannya dipake apa ya? Daripada nabung di tabungan, gimana kalau aku investasikan? Ada investasi apa saja sih yang bisa digunakan? Kenapa sih kita harus bayar pajak? Apa dampaknya kalau saya bayar atau tidak bayar pajak? Mungkin memang semua pengetahuan itu tidak wajib diketahui. Kita semua masih bisa hidup dengan pengetahuan yang minimal, tapi kualitas kehidupan kita itu akan jauh lebih baik dengan semua pengetahuan di atas. Semua jawaban dari pertanyaan tersebut itu harus kita cari tahu sendiri.

Solusi?

Dulu aku pernah mikir, solusi sederhananya, masukin aja ke kurikulum wajib. Entah itu terkait ketenagakerjaan, etika detil di tempat kerja, dan sampai manajemen finansial, buat apa dulu belajar banyak-banyak fisika atau kimia tapi ujung-ujungnya gak ngerti ngasi value yang benar buat tempat kerja. Tapi, ternyata itulah yang terjadi sekarang. Oh, anak ini kurang kemampuan ini, masukin aja ke kurikulum. Kurang kemampuan yang lain, masukin ke kurikulum juga. Kurang sesuatu, solusinya masukin ke kurikulum. Di dunia IT ini yang demand pekerjanya sangat banyak dan supply-nya sangat sedikit, dulu aku pernah berpikir solusinya itu ya udah masukin aja IT jadi kurikulum wajib sedini mungkin.

Tentunya penting untuk anak-anak tahu semua detil pengetahuan, tapi yang lebih penting adalah mereka harus diajarkan untuk mempertanyakan segala hal. Semua yang mereka baca, dengar, lihat, dan rasakan. Dari sanalah mereka tahu mana yang penting dan tidak penting untuk mereka. Masalahnya, rasa keingintahuan anak-anak sering diredam bahkan oleh orang-orang terdekat mereka. Rasa keingintahuan mereka itu yang menentukan aktivitas yang mereka lakukan di waktu luang. Padahal, ini lah waktu penting yang menentukan mereka di masa depan. Kalau mereka mengisi waktu luang mereka dengan hal-hal konsumtif, gimana mau kompetitif? Kemampuan mereka sama dari orang yang belajar dengan kurikulum yang sama, guru yang sama, pelajaran yang sama, dan jam terbang yang sama.

Bahkan, anak-anak pun perlu mempertanyakan otoritas. Jangan perlu langsung percaya semua yang dikatakan oleh yang lebih berkuasa. Semua orang bisa salah. Paling gampang kalau di dunia kerja itu kalau dikasih kerjaan. Bisa selesain pekerjaan dengan cepat dan tepat itu value, tapi yang lebih penting adalah mengidentifikasi aktivitas mana yang menghasilkan value paling tinggi dan fokuskan ke sana. Ini pun berlaku di kehidupan, keingintahuan terkait bisnis, pajak, dan finansial akan membantu kamu dalam menentukan aktivitas yang value-nya paling baik buat kamu.

Tanya, Tanya, dan Tanya

Inilah yang terjadi di dunia IT. Saat kamu memilih untuk terjun di dunia IT, kamu secara otomatis memilih belajar seumur hidupmu. Library, framework, dan teknologi baru terus bermunculan tiap bulan, bahkan tiap minggu. Kalau kamu tidak ada keingintahuan atau minat untuk belajar hal baru, gampang banget ketinggalan. Sama dengan pengetahuan-pengetahuan yang aku sebutkan di atas, ketenagakerjaan, organisasi, dan etika. Semua hal yang tidak langsung berhubungan hard skill ini aku pun mulai tertarik mempelajari di waktu luang setelah mengetahui bahwa pekerjaanku bukan cuma mengembangkan aplikasi tok. Value untuk tempat kerja itu tidak hanya dari deskripsi pekerjaan yang tertulis di kontrak atau kerjaan yang dikasih.

Jadi, kenyataannya, akan selalu ada hal-hal yang tidak kita ketahui, tapi untungnya, di zaman ini, hampir seluruh jenis pengetahuan sudah tersedia di ujung jari ini. Sayang gila kalau kesempatan ini tidak digunakan. Tanya, tanya, tanya. Itu saja kok yang perlu dilakukan. Kalau salah, sebesar apa pun, tidak masalah. Langsung saja belajar. Biasanya aku langsung bilang “next time better”, selesai. Mungkin memang masih banyak sekali yang aku sendiri belum pelajari, tapi itulah esensinya, pembelajaran terus menerus yang akan membentuk kita bisa memberikan value yang lebih baik lagi dari waktu ke waktu.