Pakai SSD atau Kehilangan Produktivitas

25 November 2015 • Edwin Lunando

Saya pertama kali membeli SSD itu 2 tahun lalu. Di saat SSD baru masuk di Indonesia. Pada waktu itu, saya memang sedang merencanakan merakit komputer sendiri dan tentunya, saya sangat mempertimbangkan SSD menjadi pilihan tempat penyimpanan komputer saya.

Permasalahannya, beberapa teman saya selalu tidak merekomendasikan saya untuk membeli SSD karena 2 alasan utama, yaitu, mahal dan durability yang lebih rendah daripada HDD. Hampir semua teman saya tahu kalau SSD itu jauh lebih cepat, tapi mereka selalu terfokus ke 2 kelemahan tersebut. Gak salah.

Sedangkan dari sisi saya, saya selalu punya pengalaman yang buruk dengan HDD. Saya sudah sejak lama menunggu teknologi penyimpanan yang baru, yang lain dari pada HDD. Beberapa kali saya punya HDD banyak yang cepat rusak. Entah itu dari pemakaian saya yang terlalu brutal atau memang produknya jelek.

Akhirnya, saya memutuskan untuk membeli Kingston HyperX 120 GB.

ssd kingston

Hasilnya? Mengerikan. Saya yang biasanya sudah menyediakan waktu booting up komputer saya sekitar 1 menit lebih, sekarang hanya membutuhkan tidak lebih dari 10 detik. Buka aplikasi-aplikasi yang biasanya makan hampir 1 menit, sekarang hanya hitungan detik. Sungguh, saya sudah tidak sanggup lagi menggunakan HDD karena perbedaan performa yang sangat signifikan. Saat saya mencoba kembali pakai HDD, hidup saya terasa sangat lambat. Tidak lebai.

Tentunya dengan harga yang tidak murah. Dengan harga SSD 120 GB, kita bisa membeli HDD dengan kapasitas 1 TB dengan harga yang sama atau bahkan lebih murah. Solusi saya terkait masalah kapasitas, tidak apa-apa menggunakan SSD, asal ada HDD lain yang siap untuk menyimpan data, HDD external pun tidak masalah. Toh, peningkatan performanya jauh sekali. Ini juga berpengaruh dalam pemilihan tempat penyimpanan server. Aplikasi basis data yang melakukan banyak operasi baca dan tulis ke tempat penyimpanan juga terpengaruh sangat signifikan dengan menggunakan SSD.

2 tahun lalu, saya membeli SSD 120 GB itu sekitar 1.1 juta, sekarang, hanya 700K-900K sudah dapat. Mengingat adanya inflasi dan kenaikan nilai dollar, harga SSD terus menurun dari tahun ke tahun. Namun, permasalahannya adalah laptop. Entah kenapa, laptop yang menggunakan SSD selalu dibarengi dengan spek yang tinggi(prosesor bagus, layar HD, dan memory besar). Ini salah satu referensi saya. Ini menyebabkan harga laptop yang menggunakan SSD sangatlah mahal. Padahal, saya sangat menginginkan laptop dengan spek 4-5 juta, tapi yang penting HDD-nya diganti dengan SSD. Seharusnya peningkatan harganya sekitar 1 juta. Tetapi, kalau saya lihat sekarang, semua laptop yang menggunakan SSD minimal harganya 10 juta. Mahal.

Yah, solusinya ganti SSD sendiri. Biasanya kalau saya beli leptop dengan spek rendah saya juga upgrade RAM sendiri. Dengan begitu, bisa jauh lebih ekonomis dengan mendapatkan performa yang maksimal. Toh, saya sudah tidak mau menggunakan HDD lagi. Saya percaya dengan menggunakan SSD, kerja saya jadi jauh lebih baik dan cepat. Terima kasih.