Mau Pake Agile?

8 April 2016 • Edwin Lunando

Sudah kira-kira 6 tahun sejak saya pertama kali fokus di bidang pengembangan aplikasi. Dari pengamatan saya, banyak tim freelance, perusahaan start-up, atau pun kelompok tugas yang menggunakan proses agile untuk mengembangkan aplikasi. Berbeda sekali saat dulu saya kuliah, yang penting delegasi kerjaan dan get things done. Yang penting selesai.

Agile Dari Engineer

Pernah suatu ketika saat saya bekerja di tim yang sudah mendeklarasi untuk menggunakan proses agile(kasus saya pakai scrum). Tiba-tiba ada rekan kerja saya yang engineer juga komplain saat evaluasi.

“Gua kesel nih, kenapa tiba-tiba fitur A yang lagi gua kerjain spesifikasinya berubah di tengah jalan. Sudah beberapa kali nih.”

Saya tahu sekali dengan yang dirasakan rakan kerja saya tersebut. Dulu, saya juga rasanya males sekali kalau tahu-tahu di tengah pekerjaan saya, ternyata spesifikasinya dirubah. Lagi asik-asiknya ngoding, paling males kalau tiba-tiba ada yang bilang.

“Win, fitur yang promo, aturannya mau diganti dong jadi lalalala”.

Males banget gak sihhhhhh? :sob:

Segala alibi saya seperti “kalau bikin spesifikasi yang jelas, dong”, “jangan minta dikerjain dulu kalau spek belum jelas”, dan segala jenis variannya sempat keluar dari mulut saya. Kasus semacam ini terus berulang-ulang sampai pada akhirnya saya sadar, kenyataannya spesifikasi tidak akan pernah sangat jelas. Sejak saat itu, saya selalu mengembangkan aplikasi dengan asumsi speksifikasi akan selalu berubah, mau apapun metodologinya.

Kalau sebuah tim sudah menentukan untuk menggunakan proses agile apapun metodenya, seharusnya tidak masalah kalau di tengah pengerjaan spesifikasi berubah. Justru untuk itulah metodologi agile dipilih. Proses development yang lebih adaptif daripada prediktif. :grin:

Agile Dari Manajemen

Selain dari engineer, saya juga sering melihat manajer proyek yang meng-abuse engineer dengan alibi agile. Saya juga pernah jadi korban ini dan melihat beberapa rekan kerja saya yang gak enakan, iya-iya saja. Ini contoh yang sopan.

“Win, kalau tombol ini diganti dikit jadi begini, susah gak?”

Ahhhhh “susah gak?”, “gampang gak?”, “lama gak bikinnya?”. Kalau ngomong begitu yang arti sebenarnya “gua mau dong ganti atau tambah fitur ini, tapi timeline/deadline-nya gak berubah” kemungkinan besar yaaaaa, tidak(kecuali kalau minta anak lu yang manis ini lembur).

Well, kenyataannya engineer bukan orang yang bisa memperlebar waktu. Kalau mau sesuatu, harus bayar. Entah itu bayarnya dengan bikin engineer lembur, deadline dirubah, ada fitur yang dipangkas, atau beliin engineer es krim. Tentunya semua bayarannya ada baik buruknya. Inilah proses agile yang benar. Semua keputusan berdasarkan diskusi terkait trade-off dari semua resource yang kita punya.