Komputer Personal Pertama

12 Maret 2017 • Edwin Lunando

Tepat di bulan Juni 2013, gua membeli, merakit, dan melahirkan sebuah komputer yang berjalan dan berfungsi seperti komputer pada umumnya. Komputer ini spesial karena inilah komputer yang pertama kali gua beli dengan uang hasil usaha sendiri. Jaman-jaman masih bergantung sama uang bulanan orang tua. Lomba, kerja paruh waktu, dan menabung gua lakukan semuaaaaaa, bukan untuk beli komputer pada awalnya.

Dulu, gua melakukan itu semua demi mengatasi rasa penasaran gua ke banyak hal. Pengan nyoba dan belajar. Saat itu, gua udah capek saja main gim di laptop dengan kualitas grafis yang “asal bisa jalan”. Dari sana, langsung deh memutuskan untuk rakit komputer sendiri. Ini hasil dan ulasannya setelah 3 tahun 8 bulan selanjutnya.

komputer personal pertama

Tampak tidak ada manajemen kabel ya? Selain karena memang casing-nya tidak mendukung, memang agak males ngurusin kabel sih. Tapi, untuk perakitan yang selanjutnya, gua berjanji untuk beresin kabelnya.

komputer personal pertama

Sudah agak kotor karena tidak pernah dicuci pakai air, cuma divakum terus. Dulu saya menghabiskan kira-kira 11 juta untuk satu set komputer ini. Yuk bahas per komponen.

Motherboard

GA-Z87X-D3H. Mahal karena versi Z. Pada awalnya, saya mau seri motherboard yang lebih murah maksimal banget 1 juta lah(yang ini 1.4 juta), tapi pada saat itu stok yang ada baru yang Z karena prosesor dengan socket LGA 1150 baru saja rilis. Padahal saya jarang overclock, tidak pakai RAID, dan gak butuh fitur-fitur power user lainnya. Karena sadar tinggal di negara berkembang yang kalau mau beli apa-apa terbatas dengan stok, akhirnya tetap beli yang lebih mahal.

Dari perakitan hingga dengan sekarang, saya tidak pernah mengalami masalah dengan motherboard ini. USB port yang biasanya cepat rusak pun masih berfungsi semuanya sampai sekarang. Buat gua sih ini udah cukup maksimal dari motherboard karena gak ada performa yang bisa diukur dari motherboard selain tidak merepotkan dan tahan lama. Well built, Gigabyte!

Processor

Intel i5 4670. Dulu perakitan ini diundur beberapa minggu karena nunggu prosesor lini yang baru ini nyampe Bandung. Milih intel karena waktu itu performa AMD kurang begitu oke untuk gaming dari beberapa ulasan. i5 karena butuh performa gaming yang baik, tapi gak perlu sampai butuh i7.

Bagus banget, dari pengalaman pakainya sih, hampir gak pernah merasa lambat buka banyak tab peramban, nulis kode, nonton film full HD, jalanin virtual machine linux, dan operasi standar lain yang menggunakan CPU. Kalau butuh benchmark, bisa dilihat di sini. Sampai sekarang pun juga masih berfungsi dengan baik dengan kipas bawaan. Palingan pernah masalah karena pasta termalnya sudah kering, setelah 3 tahun, tinggal tambahin yang baru.

Video Graphic Array

AMD 7850. Pemilihan VGA ini dulu dasarnya “yang penting bisa Dota 2 ultra setting lancar”, karena saya dulu cuma main Dota 2. Padahal saya juga banyak game lain yang ternyata menuntut kemampuan kartu grafis yang jauh lebih besar. Apalagi gim-gim baru. Untuk gim-gim 2017 yang grafisnya bagus, saya cuma bisa menikmati konfigurasi low sampai dengan medium. Itu pun paling 30 FPS. Berikut benchmarknya.

Jadi, pemilihan kartu grafis sangat tergantung gim apa yang mau dimainkan. Kalau dihitung jumlahnya, gim-gim yang tuntutan grafisnya besar, gim AAA biasanya, itu jumlahnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan gim-gim lainnya. Di bawah 5 persen lah dari total semua gim yang ada. Karena grafis hanyalah salah satu faktor dari keseruan sebuah gim. Tapi, untuk kasus gue, harusnya beli kartu grafis yang lebih kuat daripada ini.

Storage

Kingston HyperX 120 GB SSD dan Western Digital Blue 1 TB HDD. Standar hybrid, SSD buat sistem operasi dan HDD buat data-data lainnya. Sejak 3 tahun lalu, gua sudah mencicipi performa SDD yang membuat proses booting selesai dalam hitungan detik. Gua rasa ini pilihan pembelian terbaik gua diantara semua komponen. Ditambah dengan HDD-nya rusak di tahun kedua, hilanglah kepercayaan gua pada HDD. Buat yang belum paham betul perbedaan SSD dan HHD, baca ini deh. Sekali pindah, gak bisa balik lagi.

Random Access Memory

Corsair Vengeance 2 x 4GB DDR3. Dulu milih RAM yang agak mahalan ini karena ngiranya clock speed dan timing berpengaruh ke performa saat main gim. ternyata, KAGAK. Atau lebih tepatnya, gak kerasa. Pernah ngukur sendiri, gak sengefek itu. Positifnya, masih berfungsi sampai sekarang. Wajar banget, RAM itu komponen yang paling susah rusak dibandingin dengan yang lain. Sampe-sampe banyak merk ngasih garansi lifetime. Lain kali, gua pasti beli yang lebih murah.

Power Supply

Corsair VS650. Entry level, cari yang maksimal kestandarannya. Buat power supply, gua gak mau yang fancy-fancy. Dayanya cukup untuk nyalain semua komponen dan tahan lama. Toh, lini premium untuk power supply tidak terlalu memberikan fungsi yang sebanding dengan harganya. Jadi, yang murah meriah muntah pun sudah cukup. Yang gua pakai ini sudah cukup tahan, tidak pernah masalah padahal sudah beberapa kali diserang mati listrik. Rakitan selanjutnya juga bakal beli yang standar saja.

Monitor

LG 22EN43. Standar juga. Yang penting resolusinya full HD(1080p), tapi warnanya tidak terlalu detil dan tajam. Cukup lah walaupun tidak ada yang spesial. Selanjutnya, mau lebih besar. Ukurannya 25 inci dan resolusinya ultra HD(1440p).

Speaker

Edifier R101V. Lebih standar lagi, cuma 200K. Yang penting keluar suara dan ada dedicated bass-nya deh. Kagetnya, tetap saja jauh lebih baik daripada speaker laptop yang mahal. Gua sih sudah merasakan bedanya headphone 200K dengan yang 1 juta. Mungkin nanti speaker bisa buat dicoba.

Casing

Commander MS-I Snow Edition. Buat casing, style itu nomor 1. Soalnya gua bakal ngeliatin casing ini selama minimal 5 tahun ke depan. Fungsionalitas dan maintainability itu prioritas selanjutnya lah. Saat ngerakit pakai casing ini, gua terkagum-kagum ternyata bisa masang HDD atau SSD tanpa pakai baut, ada tempat docking-nya gitu. Sisanya, standar casing medium 1 ruang yang minim fitur manajemen kabel. Casing jaman sekarang banyak yang konsepnya 2 ruang. 1 untuk yang penting-penting seperti motherboard, VGA, RAM. 1 lagi untuk kabel, storage, dan power supply.

Cooling System

Super standar. Gua gak nambah kipas, gak beli pendingin CPU, atau sistem pendinginan lainnya. Ini salah satu kesalahan terbesar gua dulu, karena nyatanya, temperatur berpengaruh ke performa dan umur dari komponen komputer. Gua baru peduli dengan temperatur komputer belum lama ini. Buat yang penggunaan komputernya relatif berat seperti gaming, rendering, dan overclocking, sebaiknya menambah perangkat pendingin demi 2 alasan tersebut. Kasusnya ini komputer saya yang sudah agak tua, kalau CPU-nya dipakai 100%, suhunya bisa mencapai 90 C-an. Saat suhu prosesor sudah mencapai 100 C-an, dia otomatis akan menurunkan performa. Padahal pendingin CPU yang murah, 100K-300K, sudah sangat cukup untuk menurunkan suhu lebih dari 20 derajat, ini contohnya. Untuk komputer selanjutnya, gua mau coba sistem pendingin dengan cairan!

Rakitan Selanjutnya

Kalau dari nilai maksimal 10, gua kasih 8 lah. Secara umum enak dan nyaman banget pakainya, cuma kurang di perfoma grafis, sistem pendingin yang cukup, monitor biasa aja, dan estetika casing. Semuanya bakal gua coba perbaiki di sesi rakitan selanjutnya. Sejak gua rakit, gua sudah memutuskan untuk merakit komputer itu 5 tahun sekali demi efektifitas. Artinya, gua bakal rakit komputer lagi tahun depan. Gila, gak sabar gua nungguin tahun depan!