Terkait Gigi

6 November 2017 • Edwin Lunando

“Males gilak”

Itu perasaan gua setiap kali ke dokter gigi. Gigi gua sekarang banyak banget masalah karena tidak adanya perawatan sejak kecil. Gak ada yang ngasih tahu ternyata dampaknya bisa membuat gua keluar duit jutaan rupiah tiap gigi yang bermasalah pas sudah dewasa ini. Dari dulu, ke dokter gigi kalau sakit gigi saja padahal ada perawatan rutin dan preventif yang dapat membantu kesehatan gigi di jangka panjang.

Masalah kedua, saat gigi bermasalah, kualitas hidup gua menurun, makan gak enak dan sakitnya bikin susah konsentrasi. Menggangu dua kegiatan utama manusia dewasa, makan dan kerja.

Jadi, gua gak mau kalian mengikuti jejak ketidak tahuan terkait gigi ini. Ini ceritanya. Disclaimer: Gua bukan dokter, gua insiyur perangkat lunak yang berusaha sadar kesehatan.

Cerita Gigi

Peninggalan dari jaman SD sampai SMA, gigi gua sudah ada 5 tambalan amalgam(perak). Jadi, kalau ngeliat gigi gua, bakal keliatan banyak tambalan warna perak. Suatu ketika di tahun 2016, gigi geraham kiri nomor 7 gua sakit. Sakitnya ngilu banget, sampai menggangu semua aktivitas gua. Dateng ke dokter gigi dekat rumah, ekspektasi gua palingan gigi bolong biasa, sekali tambal langsung pulang. Ternyata cuma tinggal jadi ekspektasi saja. Prosesnya memakan 1.5 bulanan sampai satu gigi pulih. Begini.

Setelah dicek, gigi gua bolongnya sudah menyentuh bagian akar, sehingga kalaupun ditambal, bakal tetap sakit karena infeksi. Gua mendapatkan satu istilah baru saat itu, perawatan saluran akar. Sederhananya, akar dari gigi tersebut akan dibuang agar tidak terkena infeksi lagi. Kompleksnya, butuh 4 kali pertemuan untuk menyelesaikan perawatan tersebut. Setiap minggu satu kali selama 1 1/2 jam mulut gua bakal terbuka lebar. Dan biayanya, gua keluar sekitar 3 juta untuk satu gigi tersebut.

Kasus Sekarang

Damn, dan gua bakal menjalankan prosesi tersebut lagi untuk gigi yang sebelahnya. Beberapa minggu terakhir ini, karena ipar gua ada yang baru lulus dari dokter gigi, gua rasa ini saatnya benerin semua masalah gigi gua, padahal gua gak tahu kalau gigi gua bermasalah atau tidak. Karena tahu gak terlalu diurus, gua yakin aja bakal ada masalah. Jadi, Kunjungan, doi ngecek semua gigi gua. Bener aja, 4 gigi gua bolong dan setelah dilihat foto panoramix-nya, 1 gigi bolongnya sudah mencapai akar. Lagi, deh. Lebih parahnya, karena yang terkena adalah gigi utama untuk mengunyah, butuh proses inlay gigi agar kekuatan mengunyahnya terjaga.

Tapi kali ini, gua interogasi, menggunakan hak istimewa ke ipar. Gua mau tahu penyebab gigi gua bolong, tindakan preventifnya, dan cara ngerawat gigi biar jangka panjang tidak ada masalah. Ini hasilnya.

Perawatan Gigi

Kenyataannya, sikat gigi dua kali sehari saja tidak cukup. Akan selalu sisa makanan yang nyangku karena entah tidak tersikat atau sudah kena sikat tapi belum bersih. Itulah penyebab utama gigi bolong.

Untuk sisa makanan yang nyangkut di sela-sela gigi, gunakan benang gigi(dental floss). Lakukan ini satu atau dua hari sekali.

Lalukan pembersihan karang gigi/scaling sekaligus pengecekan rutin sekali setiap 6 bulan. Minta dibersihin sampe ke dalam gusi. Kalau pas dibersihkan keluar darah, rileks, wajar kok.

Untuk anak-anak kecil ternyata ada tindakan preventif agak gigi tidak bolong, istilahnya fissure/dental sealant. Jadi, bagian gigi yang rentan bolong dilapisi agak tidak ada bakteri yang bisa menembus gigi.

Gilak, kalau aja ini gua tahu sejak kecil, kualitas hidup gua bakal jauh lebih baik.

Kasus Di Depan

Ada satu tindakan preventif lagi yang perlu dilakukan, yaitu cabut kedua gigi bungsu yang tidak berguna. Termasuk tindakan preventif karena di masa depan bisa menggangu dan bisa juga tidak. Yah, masih butuh beberapa bulan buat ngurusin gigi gua yang masih banyak masalah ini. Semua biar kualitas hidup gua dan kalian lebih baik.