Terkait Engineering Lead

2 Desember 2017 • Edwin Lunando

1 tahun ke belakang hingga tulisan ini ditulis, ku ditugaskan untuk memimpin sebuah tim teknis engineering. Ini pertama kali ku dikasih kesempatan untuk mimpin tim, sebelumnya kerjanya selalu independen atau ada orang lain yang mimpin di bagian teknisnya. Seru sekali! Dulu gua sering banget komplain, ke diri sendiri tentunya, terkait engineering lead ini. Harusnya gini, harusnya gitu, jadi, pas dikasih kesempatan ini, gua mau coba jadi engineering lead idola gua dong. Jadi, ini panduan yang gua bikin sendiri.

Strive Simplicity

Sederhana itu bahan utama dari agile. Selama tidak ada kebutuhan teknis yang spesifik, kami akan memilih teknologi yang sama. Bahasa pemrograman yang sama, framework yang sama, dan database yang sama, dan pola yang sama. Dengan arsitektur yang sederhana, ini memungkinkan kami untuk mengembangkan aplikasi lebih cepat, merespon lebih cepat, dan adaptasi lebih cepat.

Menambah sebuah teknologi baru, sama saja dengan mebambah beban kompleksitas yang perlu dibawa oleh tim. Tiap hal baru yang digunakan itu mengakumulasikan beban yang pada akhirnya menambah energi yang dibutuhkan untuk bergerak. Ku ingin menghidari hal itu dengan se-lean mungkin. Kalau kita mau melakukan perjalanan jauh, bagasi minimal akan sangat berpengaruh ke keseluruhan pengalaman perjalanan.

Dengan memilih sederhana, kami mengimplementasikan solusi yang usahanya minimal dengan efisiensi maksimal. Artinya, tidak ada pemilihan teknologi atas dasar “keren” atau hype atau baru. Kami fokus menyelesaikan pekerjaannya, lalu gunakan waktu sisanya untuk prioritas yang lain. Ini bukan berarti gua menolak penggunaan teknologi baru, tapi perlu ada pertimbangan value yang didapatkan itu sebanding dengan kompleksitas yang ditambah.

Autonomy in Everyone

Keberhasilan sebuah tim itu merupakan hasil kerja setiap anggota. Oleh karena itu, gua selalu berusaha menaruh semua anggota di garis depan. Gua memberikan tiap anggota tim akses lebih untuk merespon sesuatu. Contohnya kalau di tim gua yang menangani pengiriman email, gua memberikan kapabilitas pengecekan keterkiriman email kepada semua anggota tim. Bukan hanya sebagian orang.

Alasannya? Tentunya bukan buat nambah-nambahin kerjaan orang. Biar semua anggota paham kalau apa pun peran mereka, mereka dapat membantu lebih untuk meningkatkan performa tim. Gua memberikan mereka kesempatan untuk membantu lebih. Hitung-hitung, menghindari single point of failure dari sebuah sistem, biar kalau ada satu yang berhalangan hadir, ada yang bisa menggantikan.

Untuk yang sesama engineer, gua suka banget ngasih pisau yang tajam. Maksudnya, gua bakal ngasi semua engineer gua kapabilitas yang besar. Yang artinya, tiap engineer punya akses deploy dan lingkungan produksi yang cukup untuk mengerjakan tugas secara mandiri dari awal sampai akhir. Gua melakukan ini karena gua ingin mepercayai kolega gua dan yakin kalau mereka akan tumbuh lebih baik dengan kapabilitas ini.

Salah satu tempat kerja gua di masa lalu tidak memberikan gua kesempatan deploy sama sekali. Yah mungkin niatnya baik, biar gua bisa fokus ngerjain fitur, bisa fokus. Ya, gua mungkin banget bakal memotong tangan gua dengan kakas tersebut, tapi ya jalan menuju keahlian itu memang akan penuh dengan kesalahan. Gua gak bakal jadi koki yang hebat kalau gak pernah dikasih kakas yang tajam. Gua gak mau itu terjadi ke kolega gua.

Toh kenyataannya, semua, termasuk gua bakal pernah salah. Bahkan, sangat mungkin gua mengulangi kesalahan gua. Jadi, daripada mencari ini kesalahan siapa, mending fokus solusi dari masalahnya dan cari cara supaya kejadian ini tidak terulang lagi. Atau minimal, kalau kejadian lagi, tim bisa respon lebih cepat.

Value Bonding

Untuk kenyamanan bekerja, gua selalu meluangkan waktu untuk entah ngadain jalan-jalan tim atau ikut acara tim. Tentunya makin dekat, komunikasinya akan lebih enak, yang pada akhirnya operasional tim akan jadi semakin lancar. Yey.

Dulu, pas kuliah, salah satu cita-cita gua itu kerja bareng temen-temen kuliah yang gua kenal karena gua paham kalau kerja bareng temen yang udah dikenal itu pasti menyenangkan. Tapi, yha, susah, pasti kerjanya pada nyebar. Jadi, solusinya, gua selalu mencari temen yang asik buat diajak ngobrol, hidup, dan kerja bareng.

Lagipula, bekerja ini memakan minimal 1/3 waktu dari setiap hari. Gua kemungkinan masih akan bekerja minimal 20-30 tahun lagi. Tentunya tiap delapan jam itu ingin gua nikmati prosesnya setiap hari. Kolega yang asik sangat berpengaruh ke kinerja atau kualitas hidup secara umum. Bertukar ejekan, hinaan, dan lawakan(garing) sama teman itu merupakan salah satu kenikmatan hidup.