Ulasan: Dell Vostro 3459

28 September 2016 • Edwin Lunando

Seumur-umur saya pakai laptop, saya baru pernah mencoba merek Asus dan Apple. Sekarang, saya dapat kesempatan untuk menggunakan Dell, tepatnya Dell Vostro 3459. Untuk ulasan ini, saya akan lebih membahas pengalaman saya dalam menggunakan alat ini daripada melakukan berbagai macam pengukuran. Kenapa? Karena biasanya ulasan yang dasarnya pengukuran itu sudah ada. Nanti gua jadinya cuma ngukur ulang aja. Jadi, yuk langsung saja.

Spesifikasi

ssd kingston

Warnanya hitam metalik tapi tidak glossy.

ssd kingston

Masih terdapat DVD-RW yang sebenernya sudah tidak terlalu terpakai di jaman sekarang. 3 USB 3.0-nya sampai sekarang bekerja dengan baik.

Impresi Pertama

Pertama kali saya dikasih laptop ini, saya langsung lihat spesifikasi lengkapnya. Laptop standar pekerjaan kantor umum. RAM 4 GB sudah tidak sangat tidak cukup untuk bekerja. Buka beberapa tab peramban saja pasti sudah penuh. RAM 8 GB sudah jadi batas minimal kalau mau lancar. Terkait storage juga saya langsung upgrade ke SSD karena saya tidak tahan dengan hardisk mekanik.

Dari sisi saya sebagai insinyur perangkat lunak, saya nyaman-nyaman saja sih dengan performa laptop ini. Jarang sekali ada delay yang benar-benar menggangu.

Performa

Untuk pekerjaan kantoran yang berhubungan dengan email, pemrosesan teks, spreadsheet, dan peramban, laptop ini sangat mumpuni. Saya membuka belasan tab peramban ditambah dengan membuka beberapa aplikasi seperti Microsoft Word dan Excel, tidak ada perasaan lambat sama sekali. Semua ini kalau dicolok adapter. Permasalahan mulai timbul saat penggunaan laptop di luar charger. Saya merasakan penurunan performa yang drastis jika menggunakan baterai. Sebanarnya mekanisme ini wajar-wajar saja supaya baterai laptop bisa tahan lebih lama, tetapi penurunan performanya sangat signifikan hingga mengurangi produktivitas saya. Selama mayoritas penggunaan laptop menggunakan charger sih tidak masalah.

Pengalaman

Keyboard

Standar banget. Lebih ke arah kurang enak karena sentuhannya sangat lembut. Ini lebih ke selera. Saya lebih suka yang agak lebih butuh tenaga untuk mengetik agar saya dapat lebih yakin kalau saya sudah menekan kunci tersebut. Tapi, saya suka layout keyboard-nya, sudah tidak ada tombol page-up, page-down, home, dan end dedicated. Semua harus menggunakan fn dan tombol panah yang menurut saya lebih intuitif.

Touchpad

Touchpad-nya bisa jadi enak, tapi butuh konfigurasi yang lumayan. Pengalaman di touchpad-nya Mac, langsung jalan enak dengan multi-touch gesture yang reliable. Di sini, saya perlu intall driver(ya eya lah). Setelah install driver pun belum langsung bisa reliable. Jarak tempuh yang sangat kecil dan mudahnya touchpad tertekan saat mengetik, selalu jadi masalah setiap penggunaan. Kedua masalah tersebut sebenarnya bisa diselesaikan dengan sedikit konfigurasi, kok. Jadi, walaupun awalnya tidak enak, ada solusinya biar jadi nyaman. Tapi, touchpad-nya plastik banget sih, pas pake kerasa banget plastiknya. :thumbsup:

Layar

Buat saya yang leptop terakhirnya menggunakan retina display, pas pertama kali pakai laptop ini, langsung banget keliatan pixelated di tiap-tiap elemen layarnya. Mulai dari font hingga dengan ikon, yah, terlihat lah resolusi rendahnya. Warnanya pun tidak terlalu kontras di mata. Sesuai dengan harganya sih, gak bisa ekspektasi dapet layar yang bagus di harga 6-7 jutaan.

Wireless LAN

Cuma b/g/n! Ini masalah banget kalau menggunakan koneksi yang masih 2.4 GHz. Kalau tempat kerja kamu sudah upgrade jadi 5 Ghz(ab), ini bakal jadi bottleneck kalau yang pakai koneksinya banyak. Ini masalah banget sih buat saya karena di kantor sudah mendukung 5 GHz dan mayoritas laptopnya cuma support 2.4 GHz. Hasilnya, berantem bandwidth. :cry:

Build Quality

Plastik. Kiri, kanan, depan, belakang, atas, depan, belakang plastik. Sesuai ekspektasi juga dengan harga 6-7 jutaan. Gak bisa ekspektasi bahas yang lebih bagus yaitu aluminium dan carbon dengan harga segini. Buat yang fokusnya performa, harusnya tidak masalah dengan body plastik.

Sistem

Masalah utama saya dengan laptop ini adalah, tidak ada lampu penanda saat saya menyalakan laptop. Biasa kan ada delay beberapa detik antara menekan tombol dengan menu BIOS. Nah, saya terbiasa ada lampu penanda kalau minimal laptop sudah menyala. Ini tidak, jadinya, saya pernah salah pencet lah jadinya.

Kesimpulan

Buat yang fokus dengan performa, laptop ini sangat cukup untuk pekerjaan kantor biasa, tapi tidak cocok untuk digunakan dalam waktu yang lama. Baterai, monitor, touchpad, dan keyboard-nya tidak cukup nyaman untuk penggunaan lama. Bagi software engineer yang fokusnya perfoma, saya tidak bisa merekomendasikan laptop ini, tapi kalau budget-nya mepet dan tidak masalah dengan sedikit delay, boleh lah.